Rabu, 19 September 2012

Four Causes dan Objek Format & Objek Material Ilmu Dasar Logika


A.      Four Causes dari Aristoteles
1.       Kausa Materialis: Bahan yang menjadikan adanya suatu hal. Bahan yang menjadi unsur untuk membuat segala sesuatu.
2.       Kausa Formalis : Bentuk atau struktur dari hal tersebut. Esensi dari segala sesuatu. Struktur atau hakekat yang membedakan bahan yang satu berbeda dengan bahan yang lainnya.
3.       Kausa Efisien     : Sesuatu yang lain yang menyebabkan hal itu ada. Perantara yang membuat hal tersebut.
4.       Kausa Finalis      : Tujuan dari dibuatnya hal tersebut.

Contoh :
Empat kausa (sebab) dicontohkan melalui asal mula terbentuknya Pancasila.
1.       Kausa Materialis: Adanya pancasila berawal dari bangsa Indonesia sendiri karena atas adanya     kebiasaan, adat dan istiadat, nilai-nilai agama di dalam kehidupannya sehari-hari.
2.       Kausa Formalis : Bentuk dari pancasila sendiri terdapat dalam pembukaan UUD 1945 alinea ke- 4. Berisi tentang nilai ketuhanan, nilai  kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan, dan nilai keadilan.
3.       Kausa Efisien     : Adanya pencasila sebagai dasar negara tidak luput dari pemikiran-pemikiran orang-orang hebat. Rumusan-rumusan pancasila dibuat oleh BPUPKI, Soekarno dan Moh. Hatta serta panitia sembilan yang kemudian ditetapkan oleh PPKI sbagai dasar negara yang sah.
4.       Kausa Finalis      : Tujuan dibentuknya pancasila sebagai dasar negara. Pada hakikatnya, pancasila adalah sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia.
Referensi :
Scribd Inc. 2012. Filsafat 1. http://ml.scribd.com/doc/41097405/Filsafat-1.  19 September 2012
Kusuma, Jaya. 2008. Proses Terjaadinya Pancasila. http://id.shvoong.com/social-sciences/1853262-proses-terjadinya-pancasila/ . 19 September 2012

B.        Objek Material dan Formal Logika
Logika merupakan suatu ilmu yang memiliki objek. Objek materialnya adalah pikiran manusia. Sedangkan objek formal logika adalah hukum-hukum, bentuk-bentuk, prinsip-prinsip pikiran. Jadi logika scientifika adalah suatu pertanyaan tentang benar atau tidak benarnya fakta dari suatu ungkapan atau kesimpulan.
Maka dari itu, kelurusan pikiran harus dibarengi dengan kebenaran materi pikiran. Sehingga proses penalaran kita tidak hanya logis tetapi juga dialektis.
Referensi :
Poespoprodjo. 1985. Logika Scientifika. Bandung: Remadja Karya CV


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar dan saran Anda sangat berarti.. :)